Pagi itu Balai Desa Mundam Sakti terasa lebih ramai dari biasanya. Meja-meja disusun melingkar, dan satu per satu pengurus Koperasi Desa Merah Putih berdatangan. Tepat pukul 09.00, Kepala Desa membuka rapat koordinasi.
Dengan nada tenang tapi tegas, beliau mulai menjelaskan. “Gerai KDMP ini kita buat bukan sekadar toko. Ini pintu masuk untuk memajukan ekonomi warga Mundam Sakti. Biar ibu-ibu nggak jauh-jauh beli sembako, biar petani gampang dapat pupuk, dan hasil panen kita ada yang nampung dengan harga layak.”
Semua yang hadir mengangguk setuju. Lalu Kepala Desa menggelar peta desa dan menunjuk tiga titik.
“Titik pertama, eks Gedung Serbaguna di RT 02. Gedungnya udah ada, tinggal renovasi atap. Lokasinya di jalan utama, pas di jalur truk dan dekat pasar mingguan. Parkirnya luas.”
“Titik kedua, tanah kas desa di depan SDN 1 Mundam Sakti. Strategis karena ramai wali murid tiap pagi. Tapi kita harus urus izin tata ruang dulu.”
“Terakhir, sebagian Balai Desa sisi timur. Enaknya, nggak perlu bangun dari nol dan aman. Tapi lahan parkirnya sempit, nanti susah buat bongkar muat.”
Ketua KDMP kemudian angkat bicara. “Kami di koperasi butuh tempat yang gampang dijangkau petani pulang dari ladang, ada ruang buat truk masuk, dan cukup ramai biar usaha jalan. Dari tiga pilihan tadi, kami condong ke eks Gedung Serbaguna. Bangunannya udah ada, tinggal poles sedikit.”
Diskusi mengalir. Perangkat desa menambahkan hitungan biaya, tokoh masyarakat menimbang dampak ke warga sekitar. Setelah hampir satu jam, akhirnya semua sepakat: gerai KDMP akan dibangun di eks Gedung Serbaguna RT 02, Desa Mundam Sakti.
Sebelum menutup rapat, Kepala Desa berpesan, “Ini koperasi milik kita bersama. Saya minta pengurus kerja transparan, warga Mundam Sakti ikut mengawasi. Target kita, bulan depan gerai sudah bisa buka dan langsung melayani.”
Rapat ditutup dengan terbentuknya tim kecil untuk survei bangunan, hitung RAB, dan urus izin. Semua pulang dengan satu harapan yang sama: gerai KDMP bisa benar-benar jadi denyut baru ekonomi Desa Mundam Sakti.